Episode Details
Back to Episodes
Industri Sawit semakin siap hadapi El Niño, Pakar IPB: Kunci utamanya cegah karhutla
Description
Industri perkebunan kelapa sawit dinilai semakin siap menghadapi ancaman El Niño yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun demikian, upaya mitigasi tidak cukup hanya mengandalkan sarana pemadaman, melainkan harus didukung sistem pencegahan yang terintegrasi sejak dini. Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, M.P., dalam program TalkHighlight Radio Elshinta yang dipandu Bherry Hamzah, Kamis (13/8/2026).
Dalam dialog tersebut hadir pula Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr., Ahli Gambut dan Hidrologi Lahan Gambut IPB University. Prof. Yanto mengatakan, selama ini industri sawit kerap menjadi sorotan setiap kali terjadi karhutla. Padahal, secara ilmiah kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan yang kompleks dan tidak bisa hanya dikaitkan dengan keberadaan perkebunan sawit. "Kita perlu sangat berhati-hati mengatakan bahwa karhutla identik dengan sawit. Itu merupakan penyederhanaan yang tidak kuat secara ilmiah, karena karhutla merupakan fenomena multidimensional yang dipengaruhi cuaca, kondisi ekosistem, tata guna lahan, aktivitas manusia, hingga kapasitas pengelolaan di lapangan," ujar Prof. Yanto.
Meski demikian, ia menegaskan industri sawit tetap memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola risiko kebakaran. Menurutnya, perusahaan-perusahaan sawit kini telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam membangun sistem kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau panjang.
"Saya melihat dari sisi kewaspadaan, pelatihan petugas pemadam, pemantauan hotspot, hingga kesiapan di lapangan telah mengalami kemajuan yang signifikan. Karena itu saya menduga industri sawit akan lebih siap menghadapi El Niño dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," katanya.
Prof. Yanto menjelaskan, El Niño bukan penyebab utama kebakaran, tetapi menjadi faktor yang melipatgandakan risiko karena menyebabkan vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga mudah terbakar.
Menurutnya, perusahaan perkebunan sawit yang berada di wilayah rawan harus meningkatkan kewaspadaan karena ancaman yang dihadapi bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap keberlangsungan produksi.
"El Niño bukan menciptakan api, tetapi membuat bentang alam jauh lebih mudah terbakar. Karena itu yang harus kita kelola adalah risikonya sebelum api muncul. Strategi terpenting bukan memadamkan api, melainkan deteksi dini agar kebakaran tidak sempat berkembang," tegasnya.
Ia menambahkan, saat ini sebagian besar perusahaan sawit telah memiliki embung, tim patroli, sistem pemantauan hotspot, serta peralatan pemadaman. Namun seluruh fasilitas tersebut hanya akan efektif apabila menjadi bagian dari sistem pengendalian yang terintegrasi.
Prof. Yanto juga mengapresiasi kebijakan yang mewajibkan perusahaan perkebunan sawit tidak hanya menjaga area konsesinya, tetapi ikut melakukan pengawasan hingga radius lima kilometer di luar konsesi melalui kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan akademisi.
"Ukuran keberhasilan pengendalian karhutla bukan tergantung banyaknya embung atau fasilitas yang dimiliki, tetapi seberapa cepat api terdeteksi, seberapa cepat ditangani, dan seberapa kecil area yang terdampak. Itulah ukuran keberhasilan sesungguhnya," ungkapnya.
Menurut Prof. Yanto, kolaborasi antara perusahaan sawit, pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi menjadi faktor penting untuk memastikan produktivitas perkebunan tetap terjaga tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan, terutama saat Indonesia menghadapi ancaman El Niño tahun ini.