Episode Details

Back to Episodes
08 Juni 2026 - Ketaatan yang Tidak Utuh | 2 Tawarikh 25

08 Juni 2026 - Ketaatan yang Tidak Utuh | 2 Tawarikh 25

Published 1 month, 2 weeks ago
Description

Ketaatan yang Tidak Utuh

Senin, 8 Juni 2026


Bacaan Alkitab hari ini:

2 Tawarikh 25


TUHAN rindu agar umat-Nya memiliki hati yang sepenuhnya menaati Dia. Kerinduan ini bukan hanya bagi kita saat ini, tetapi juga bagi orang-orang pada zaman Perjanjian Lama. Sayangnya, terkadang, umat Tuhan tidak taat sepenuhnya pada Tuhan atau hanya taat dengan setengah hati. Ketaatan setengah hati atau ketaatan yang tidak utuh terlihat dalam bacaan Alkitab hari ini. Perhatikan bahwa dalam bacaan Alkitab hari ini, Raja Amazia disebut sebagai raja Yehuda yang melakukan apa yang benar di mata Tuhan (25:2a). Apa dasar penilaian itu? Raja Amazia menghukum orang-orang yang membunuh ayahnya, yaitu Yoas, tetapi tidak menghukum anak-anak mereka (25:3-4 menaati Ulangan 24:16). Ia memimpin kerajaan-Nya dengan ketaatan, sesuai dengan keinginan Tuhan. (Misalnya, dalam 25:7-10, Tuhan meminta Raja Amazia memulangkan pasukan Israel yang disewa untuk membantu pasukan Yehuda, sekalipun Raja Amazia sudah membayar biaya sewa pasukan itu).


Sayangnya, ketaatan Raja Amazia itu dilakukan "tidak dengan segenap hati" (25:2b). Ketaatan Raja Amazia tidak dilakukan dengan hati yang utuh/lengkap/bulat. Sebaliknya, ketaatan itu dilakukan dengan hati yang terbelah. Baginya, Tuhan bukan satu-satunya pusat hidup yang mengarahkan hidupnya sepenuhnya. Hal ini terlihat dalam beberapa peristiwa, antara lain dia menaati perintah nabi Tuhan untuk memulangkan tentara bayaran Israel (25:7–10), tetapi hatinya masih terikat pada kerugian karena biaya sewa sudah dibayar. Setelah mengalahkan pasukan Edom, dia membawa pulang patung ilah orang Seir, lalu sujud menyembah pada patung itu (25:14). Ia tidak mau menerima teguran nabi Tuhan (25:16). Jelas bahwa ketaatan Raja Amazia itu tidak dilakukan dengan segenap hati.


Apakah ketaatan kita utuh/tidak terbagi/konsisten? Ketaatan kita harus dilandasi oleh status kita sebagai anak-anak Allah. Kita harus selalu sadar bahwa dahulu, kita adalah orang berdosa yang harus menerima hukuman kekal. Akan tetapi, Tuhan Yesus telah menebus kita dan mengangkat kita sebagai anak-anak Allah. Status ini seharusnya membuat kita taat secara utuh. Sayangnya, status kita tidak selalu tercermin dalam kesaksian hidup kita. Berapa banyak anggota keluarga, kerabat, dan rekan kerja yang terluka oleh perkataan kita? Berapa sering kita datang beribadah dan melayani hanya sebatas formalitas, bukan karena kerinduan kita untuk berelasi dan berinteraksi dengan Allah? Berapa sering kita berkompromi untuk melakukan dosa yang sama setelah kita mengakui dosa dan menerima pengampunan Allah? [Pdt. Roni Tan]

Listen Now

Love PodBriefly?

If you like Podbriefly.com, please consider donating to support the ongoing development.

Support Us