Episode Details
Back to Episodes
Battling Smog: A Brother's Morning Walk in Jakarta
Published 1 month, 3 weeks ago
Description
Fluent Fiction - Indonesian: Battling Smog: A Brother's Morning Walk in Jakarta
Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
fluentfiction.com/id/episode/2026-06-07-07-38-19-id
Story Transcript:
Id: Pagi itu, langit Jakarta tertutup kabut.
En: That morning, the sky of Jakarta was covered with haze.
Id: Udara terasa lembab.
En: The air felt humid.
Id: Aditya berdiri di depan jendela kamarnya, merasakan sedikit kekhawatiran merayap dalam pikirannya.
En: Aditya stood in front of his bedroom window, feeling a bit of worry creeping into his mind.
Id: Dia ingin sekali berjalan pagi dengan Sri, adiknya yang penuh semangat.
En: He really wanted to take a morning walk with Sri, his enthusiastic younger sister.
Id: Namun, pikirannya dipenuhi dengan bayangan polusi dan kadar udara yang tidak sehat.
En: However, his mind was filled with images of pollution and unhealthy air levels.
Id: "Mas, ayo jalan-jalan!" panggil Sri dari ruang tamu.
En: "Mas, let’s go for a walk!" called Sri from the living room.
Id: Suaranya ceria seperti biasa.
En: Her voice was as cheerful as always.
Id: Aditya berbalik dan menghela napas.
En: Aditya turned around and sighed.
Id: "Kamu tahu, polusi di luar sana masih buruk.
En: "You know, the pollution out there is still bad.
Id: Tapi... mungkin ini akan baik untukku."
En: But... maybe it’ll be good for me."
Id: Sri tersenyum, memegang tangan Aditya.
En: Sri smiled, holding Aditya's hand.
Id: "Udara pagi meskipun lembab, tetap segar.
En: "The morning air, even if it's humid, is still fresh.
Id: Kita hanya berjalan sebentar, kan?"
En: We’re just going for a short walk, right?"
Id: Aditya akhirnya setuju.
En: Aditya finally agreed.
Id: Mereka keluar dari rumah, mencapai jalanan yang ramai di Jakarta.
En: They left the house, reaching the busy streets of Jakarta.
Id: Di kiri kanan jalan, deretan toko kecil sudah mulai buka.
En: On both sides of the road, rows of small shops were starting to open.
Id: Aroma nasi uduk dan gorengan terasa menggoda.
En: The aroma of nasi uduk and fried snacks was tempting.
Id: Aditya mencoba menikmati suasana, meski masih merasa was-was.
En: Aditya tried to enjoy the atmosphere, though he still felt uneasy.
Id: "Seru, kan, Mas?" Sri menoleh padanya.
En: "Isn't it fun, Mas?" Sri turned to him.
Id: Aditya hanya mengangguk, mengamati penjual bubur yang sibuk melayani pelanggan.
En: Aditya just nodded, watching a porridge vendor busy serving customers.
Id: Tapi, tidak lama kemudian, dia merasakan napasnya mulai sesak.
En: But, not long after, he felt his breath starting to tighten.
Id: Udara lembab ditambah dengan kabut polusi membuatnya sulit bernapas.
En: The humid air combined with the smog made it hard to breathe.
Id: "Mas?" tanya Sri cemas saat melihat wajah Aditya berubah pucat.
En: "Mas?" Sri asked anxiously when she saw Aditya’s face turn pale.
Id: Aditya berhenti, memegang dadanya.
En: Aditya stopped, holding his chest.
Id: "Sepertinya asma ku kumat," katanya terengah-engah.
En: "I think my asthma is acting up," he said, panting.
Id: Sri langsung bertindak, merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan inhaler Aditya.
En: Sri immediately acted, reaching into her small bag and pulling out Aditya’s inhaler.
Id: "Ambil ini, dan tarik napas dalam-dalam."
En: "Take this, and breathe in deeply."
Id: Dengan bantuan Sri, Aditya menghirup dari inhalernya.
En: With Sri's help, Aditya inhale
Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
fluentfiction.com/id/episode/2026-06-07-07-38-19-id
Story Transcript:
Id: Pagi itu, langit Jakarta tertutup kabut.
En: That morning, the sky of Jakarta was covered with haze.
Id: Udara terasa lembab.
En: The air felt humid.
Id: Aditya berdiri di depan jendela kamarnya, merasakan sedikit kekhawatiran merayap dalam pikirannya.
En: Aditya stood in front of his bedroom window, feeling a bit of worry creeping into his mind.
Id: Dia ingin sekali berjalan pagi dengan Sri, adiknya yang penuh semangat.
En: He really wanted to take a morning walk with Sri, his enthusiastic younger sister.
Id: Namun, pikirannya dipenuhi dengan bayangan polusi dan kadar udara yang tidak sehat.
En: However, his mind was filled with images of pollution and unhealthy air levels.
Id: "Mas, ayo jalan-jalan!" panggil Sri dari ruang tamu.
En: "Mas, let’s go for a walk!" called Sri from the living room.
Id: Suaranya ceria seperti biasa.
En: Her voice was as cheerful as always.
Id: Aditya berbalik dan menghela napas.
En: Aditya turned around and sighed.
Id: "Kamu tahu, polusi di luar sana masih buruk.
En: "You know, the pollution out there is still bad.
Id: Tapi... mungkin ini akan baik untukku."
En: But... maybe it’ll be good for me."
Id: Sri tersenyum, memegang tangan Aditya.
En: Sri smiled, holding Aditya's hand.
Id: "Udara pagi meskipun lembab, tetap segar.
En: "The morning air, even if it's humid, is still fresh.
Id: Kita hanya berjalan sebentar, kan?"
En: We’re just going for a short walk, right?"
Id: Aditya akhirnya setuju.
En: Aditya finally agreed.
Id: Mereka keluar dari rumah, mencapai jalanan yang ramai di Jakarta.
En: They left the house, reaching the busy streets of Jakarta.
Id: Di kiri kanan jalan, deretan toko kecil sudah mulai buka.
En: On both sides of the road, rows of small shops were starting to open.
Id: Aroma nasi uduk dan gorengan terasa menggoda.
En: The aroma of nasi uduk and fried snacks was tempting.
Id: Aditya mencoba menikmati suasana, meski masih merasa was-was.
En: Aditya tried to enjoy the atmosphere, though he still felt uneasy.
Id: "Seru, kan, Mas?" Sri menoleh padanya.
En: "Isn't it fun, Mas?" Sri turned to him.
Id: Aditya hanya mengangguk, mengamati penjual bubur yang sibuk melayani pelanggan.
En: Aditya just nodded, watching a porridge vendor busy serving customers.
Id: Tapi, tidak lama kemudian, dia merasakan napasnya mulai sesak.
En: But, not long after, he felt his breath starting to tighten.
Id: Udara lembab ditambah dengan kabut polusi membuatnya sulit bernapas.
En: The humid air combined with the smog made it hard to breathe.
Id: "Mas?" tanya Sri cemas saat melihat wajah Aditya berubah pucat.
En: "Mas?" Sri asked anxiously when she saw Aditya’s face turn pale.
Id: Aditya berhenti, memegang dadanya.
En: Aditya stopped, holding his chest.
Id: "Sepertinya asma ku kumat," katanya terengah-engah.
En: "I think my asthma is acting up," he said, panting.
Id: Sri langsung bertindak, merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan inhaler Aditya.
En: Sri immediately acted, reaching into her small bag and pulling out Aditya’s inhaler.
Id: "Ambil ini, dan tarik napas dalam-dalam."
En: "Take this, and breathe in deeply."
Id: Dengan bantuan Sri, Aditya menghirup dari inhalernya.
En: With Sri's help, Aditya inhale