Episode Details
Back to Episodes
Espresso Dreams: Brewing a Love Story in Jakarta
Published 3 weeks, 2 days ago
Description
Fluent Fiction - Indonesian: Espresso Dreams: Brewing a Love Story in Jakarta
Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
fluentfiction.com/id/episode/2026-05-14-22-34-02-id
Story Transcript:
Id: Dewi berdiri di belakang mesin espresso, menghirup aroma kopi yang menguar di seluruh ruangan.
En: Dewi stood behind the espresso machine, inhaling the aroma of coffee that wafted throughout the room.
Id: Roastery yang ia bekerja di Jakarta ini selalu ramai oleh pengunjung.
En: The roastery where she worked in Jakarta was always bustling with visitors.
Id: Ada suara mesin penggiling kopi, obrolan hangat, dan tawa yang memenuhi udara.
En: There were sounds of the coffee grinder, warm conversations, and laughter filling the air.
Id: Dewi adalah seorang barista yang cekatan dan perhatian.
En: Dewi was an agile and attentive barista.
Id: Setiap hari, dia melihat Rizal, seorang pelanggan setia yang selalu datang dengan buku catatan dan pulpen di tangan.
En: Every day, she saw Rizal, a loyal customer who always came with a notebook and pen in hand.
Id: Rizal bercita-cita menjadi penulis besar.
En: Rizal aspired to become a great writer.
Id: Diam-diam, Dewi menyimpan rasa suka pada Rizal, namun terlalu malu untuk mengungkapkannya.
En: Secretly, Dewi harbored a liking for Rizal, but was too shy to express it.
Id: Di pojok kafe, Arjuna, rekan kerja Dewi, memanggilnya.
En: In the corner of the cafe, Arjuna, Dewi's coworker, called her.
Id: "Dewi, ada yang tertinggal di meja Rizal," katanya, menunjukkan sebuah manuskrip tebal.
En: "Dewi, something is left behind on Rizal's table," he said, pointing to a thick manuscript.
Id: Rasa ingin tahu mendorong Dewi untuk membukanya.
En: Curiosity drove Dewi to open it.
Id: Saat membacanya, ia tercengang akan kedalaman dan kreativitas tulisan Rizal.
En: As she read it, she was astonished by the depth and creativity of Rizal's writing.
Id: Ia tahu ini adalah sesuatu yang istimewa.
En: She knew it was something special.
Id: Namun, Dewi bimbang.
En: However, Dewi was in a dilemma.
Id: Haruskah dia mengembalikannya segera dan mengakui bahwa ia sudah membacanya?
En: Should she return it immediately and admit she had read it?
Id: Atau harus menunggu waktu yang lebih tepat?
En: Or should she wait for a more opportune time?
Id: Esok harinya, Rizal datang lagi.
En: The next day, Rizal came again.
Id: Dewi meneguk kebimbangan dengan memutuskan untuk memberi sedikit petunjuk.
En: Dewi swallowed her hesitation by deciding to give a little hint.
Id: "Rizal, kamu tahu?
En: "Rizal, you know?
Id: Aku kenal penerbit yang sedang mencari penulis baru," katanya sambil menyerahkan kopi.
En: I know a publisher who is looking for new writers," she said while handing over the coffee.
Id: Rizal melihatnya dengan pandangan bingung.
En: Rizal looked at her with a confused gaze.
Id: "Oh ya?
En: "Oh really?
Id: Kok kamu tahu?
En: How do you know?"
Id: "Dewi menghela napas.
En: Dewi sighed.
Id: "Aku membaca manuskripmu.
En: "I read your manuscript.
Id: Maaf.
En: I'm sorry.
Id: Aku tidak tahan.
En: I couldn't resist.
Id: Itu sangat bagus.
En: It's really good."
Id: "Wajah Rizal berubah.
En: Rizal's face changed.
Id: "Bagaimana kamu tahu itu bisa diterbitkan?
En: "How do you know it could be published?"
Id: "Pertanyaan ini mengarahkan mereka ke percakapan panjang dan jujur tentang impian dan perasaan
Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
fluentfiction.com/id/episode/2026-05-14-22-34-02-id
Story Transcript:
Id: Dewi berdiri di belakang mesin espresso, menghirup aroma kopi yang menguar di seluruh ruangan.
En: Dewi stood behind the espresso machine, inhaling the aroma of coffee that wafted throughout the room.
Id: Roastery yang ia bekerja di Jakarta ini selalu ramai oleh pengunjung.
En: The roastery where she worked in Jakarta was always bustling with visitors.
Id: Ada suara mesin penggiling kopi, obrolan hangat, dan tawa yang memenuhi udara.
En: There were sounds of the coffee grinder, warm conversations, and laughter filling the air.
Id: Dewi adalah seorang barista yang cekatan dan perhatian.
En: Dewi was an agile and attentive barista.
Id: Setiap hari, dia melihat Rizal, seorang pelanggan setia yang selalu datang dengan buku catatan dan pulpen di tangan.
En: Every day, she saw Rizal, a loyal customer who always came with a notebook and pen in hand.
Id: Rizal bercita-cita menjadi penulis besar.
En: Rizal aspired to become a great writer.
Id: Diam-diam, Dewi menyimpan rasa suka pada Rizal, namun terlalu malu untuk mengungkapkannya.
En: Secretly, Dewi harbored a liking for Rizal, but was too shy to express it.
Id: Di pojok kafe, Arjuna, rekan kerja Dewi, memanggilnya.
En: In the corner of the cafe, Arjuna, Dewi's coworker, called her.
Id: "Dewi, ada yang tertinggal di meja Rizal," katanya, menunjukkan sebuah manuskrip tebal.
En: "Dewi, something is left behind on Rizal's table," he said, pointing to a thick manuscript.
Id: Rasa ingin tahu mendorong Dewi untuk membukanya.
En: Curiosity drove Dewi to open it.
Id: Saat membacanya, ia tercengang akan kedalaman dan kreativitas tulisan Rizal.
En: As she read it, she was astonished by the depth and creativity of Rizal's writing.
Id: Ia tahu ini adalah sesuatu yang istimewa.
En: She knew it was something special.
Id: Namun, Dewi bimbang.
En: However, Dewi was in a dilemma.
Id: Haruskah dia mengembalikannya segera dan mengakui bahwa ia sudah membacanya?
En: Should she return it immediately and admit she had read it?
Id: Atau harus menunggu waktu yang lebih tepat?
En: Or should she wait for a more opportune time?
Id: Esok harinya, Rizal datang lagi.
En: The next day, Rizal came again.
Id: Dewi meneguk kebimbangan dengan memutuskan untuk memberi sedikit petunjuk.
En: Dewi swallowed her hesitation by deciding to give a little hint.
Id: "Rizal, kamu tahu?
En: "Rizal, you know?
Id: Aku kenal penerbit yang sedang mencari penulis baru," katanya sambil menyerahkan kopi.
En: I know a publisher who is looking for new writers," she said while handing over the coffee.
Id: Rizal melihatnya dengan pandangan bingung.
En: Rizal looked at her with a confused gaze.
Id: "Oh ya?
En: "Oh really?
Id: Kok kamu tahu?
En: How do you know?"
Id: "Dewi menghela napas.
En: Dewi sighed.
Id: "Aku membaca manuskripmu.
En: "I read your manuscript.
Id: Maaf.
En: I'm sorry.
Id: Aku tidak tahan.
En: I couldn't resist.
Id: Itu sangat bagus.
En: It's really good."
Id: "Wajah Rizal berubah.
En: Rizal's face changed.
Id: "Bagaimana kamu tahu itu bisa diterbitkan?
En: "How do you know it could be published?"
Id: "Pertanyaan ini mengarahkan mereka ke percakapan panjang dan jujur tentang impian dan perasaan