Episode Details

Back to Episodes

#954 Pluriverse: Menemukan Kembali Makna "Sekarang"

Episode 1070 Published 1 month ago
Description

Konsep Pluriverse muncul sebagai jawaban atas kebuntuan fisika konvensional yang sering kali menafikan eksistensi momen "sekarang". Dalam teori relativitas Einstein, alam semesta digambarkan sebagai sebuah "blok statis" di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan sudah ada secara setara, sehingga intervensi manusia untuk mengubah masa depan dianggap sebagai ilusi. Namun, Pluriverse menawarkan perspektif radikal bahwa realitas bukanlah sesuatu yang sudah jadi, melainkan sebuah penggelaran kosmik yang terus-menerus terjadi. Di sini, momen "sekarang" menjadi gerbang utama di mana pilihan dan tindakan kita memiliki kekuatan kausatif untuk membentuk apa yang akan menjadi nyata berikutnya.

Dasar ilmiah dari gagasan ini berakar pada interpretasi kuantum yang disebut QBisme (Quantum Bayesianism) dan teori saraf pengodean prediktif. QBisme memandang probabilitas kuantum bukan sebagai fakta objektif tentang dunia luar, melainkan sebagai "buku panduan" bagi pengalaman pribadi subjek. Hal ini selaras dengan temuan ilmu saraf bahwa otak kita sebenarnya tidak memotret dunia sebagaimana adanya, melainkan terus-menerus memperbarui "tebakan terbaik" berdasarkan input sensorik. Dalam kerangka Pluriverse, realitas adalah hasil dari tindakan yang kita ambil; jika kita tidak mengambil tindakan tertentu, maka alam semesta yang kita alami akan berbeda. Dengan kata lain, kita tidak bisa memisahkan diri dari dunia yang kita amati karena pengamatan itu sendiri adalah bagian dari penciptaan realitas.

Pada akhirnya, Pluriverse mengajak kita untuk melihat alam semesta bukan sebagai objek tunggal yang dingin dan mekanistik, melainkan sebagai "proyek bersama" yang dinamis. Melalui kolaborasi antara fisika kuantum dan filsafat enaktivisme, realitas digambarkan menyerupai improvisasi jazz atau hutan liar yang penuh dengan komunitas "saat ini" yang saling berinteraksi. Meski setiap individu hidup dalam model pengalamannya sendiri, kita tetap berbagi realitas melalui komunikasi dan interaksi yang menyelaraskan perspektif-perspektif tersebut. Alih-alih mencari pandangan objektif dari "mata Tuhan", Pluriverse menempatkan makhluk hidup sebagai partisipan aktif yang, dalam miliaran kilatan kreatif setiap detiknya, terus menempa wajah alam semesta.

Listen Now

Love PodBriefly?

If you like Podbriefly.com, please consider donating to support the ongoing development.

Support Us