Episode Details
Back to Episodes
🌿 Bagian 13 — Dari Sakata ke Tsuruoka: Menyusuri Laut Menuju Kota Suci di Pegunungan
Description
🌿 Bagian 13 — Dari Sakata ke Tsuruoka: Menyusuri Laut Menuju Kota Suci di Pegunungan
Meninggalkan kota pelabuhan Sakata, yang dahulu ramai dengan layar kapal dagang, perjalanan kali ini bergerak ke selatan menyusuri pesisir Laut Jepang menuju Tsuruoka, kota yang dikenal karena spiritualitasnya yang mendalam, sejarahnya yang kaya, dan budayanya yang berakar pada kehidupan pegunungan.
Perjalanan singkat ini — sekitar 40 menit dengan kereta di Jalur Utama Uetsu — menghubungkan hembusan angin laut dengan kesakralan gunung.
Saat kereta berangkat dari Stasiun Sakata, relnya berjalan sejajar dengan garis pantai.
Pada hari yang cerah, Anda dapat melihat gelombang Laut Jepang berkilau di bawah sinar matahari, dengan perahu nelayan kecil menghiasi cakrawala.
Irama kereta terasa tenang, hampir seperti meditasi — kontras sempurna dengan keramaian pelabuhan yang baru saja Anda tinggalkan.
Setibanya di Tsuruoka, suasananya berubah menjadi hening dan penuh rasa hormat.
Kota ini adalah gerbang menuju Dewa Sanzan, “Tiga Gunung Suci” — Haguro, Gassan, dan Yudono — rute ziarah yang telah menghubungkan alam dan keimanan selama lebih dari seribu tahun.
Banyak peziarah bermalam di sini sebelum mendaki Gunung Haguro, di mana pohon-pohon cedar kuno dan anak tangga batu menuntun menuju kuil-kuil yang tersembunyi dalam kabut.
Di dalam kota, kunjungi Museum Chido, yang melestarikan rumah samurai, kerajinan lokal, dan arsitektur tradisional domain Shonai.
Taman dan aula kayu di museum ini memantulkan keseimbangan antara kesederhanaan dan keanggunan — esensi dari budaya Tsuruoka.
Tak jauh dari sana, Kuil Zenpoji, yang juga dikenal sebagai “Kuil Laut”, menghormati para nelayan dan pelaut, memadukan ajaran Buddhisme dengan warisan maritim.
Tsuruoka juga merupakan Kota Kreatif Gastronomi UNESCO, terkenal akan hasil bumi dan masakan musiman yang kaya cita rasa.
Cobalah nasi Shonai, hidangan laut segar, serta sayuran tradisional yang berakar dari masakan kuil — sederhana, bergizi, dan menyatu erat dengan alam sekitarnya.
Perjalanan dari Sakata ke Tsuruoka lebih dari sekadar jarak antara dua kota — ini adalah perjalanan dari perdagangan menuju ketenangan, dari laut menuju iman pegunungan.
Perjalanan ini terasa seperti tarikan napas panjang yang tenang — momen ketika sang pengelana, seperti alam itu sendiri, melambat untuk bernapas seirama dengan lautan dan hutan.